THE GIFT
Jim Brickman
Winter snow is falling down
Children laughing all around
Lights are turning on
like a fairy tale come true.
Sitting by the fire we made
You're the answer when i prayed
I would find someone
and baby I found you.
All I want is to hold you forever
All I need is you more every day
You saved my heart
from being broken apart
You gave your love away
and I'm thankful every day
for the gift.
Watching as you softly sleep
What I'd give if I could keep
Just this moment
if only time stood still.
But the colors fade away
And the years will make us grey
But baby in my eyes
You'll still be beautiful.
All I want is to hold you forever
All I need is you more every day
You saved my heart
from being broken apart
You gave your love away
And I'm thankful every day
for the gift.
Berisikan semua pengalaman dan sharing untuk saling menguatkan. Ketika masalah datang - menjadi seumpama teh yang sedang dididihkan di atas sebuah poci, justru makin harum, makin taat dan berserah percaya padaNya.
Rabu, 07 Maret 2012
Senin, 06 Februari 2012
Santa Regina - Pelindungku
RIWAYAT SANTA REGINA
Pada tahun 235 lahirlah di kota Alise Perancis, seorang anak perempuan, Regina namanya. Ibunya meninggal tidak lama setelah Regina lahir. Regina rupanya kurang sehat. Ayahnya seorang hakim yang tersohor, mencari jalan untuk menyelamatkan anaknya.
“Di desa saya tinggal seorang wanita yang mampu lagi peramah serta sehat, tuan, mungkin dia mau....”
“O, sungguh kabar baik itu,” ujar hakim itu dengan gembira memutuskan kalimat pelayannya.
Beberapa hari kemudian berangkatlah dia ke rumah wanita itu yang bernama Natalie yang mempunyai perusahaan ternak.Natalie yang pengiba dan penyayang menerima permintaan hakim itu dengan sepenuh hatinya. Maka sebulan kemudian Regina pindah ke rumah yang luas di desa yang berhawa sejuk, di pegunungan. Dan bertambah hari, Regina bertambah besar dan sehat.
Sayang jarang sekali hakim itu mengunjungi anaknya. Hingga pada akhirnya Regina tak kenal lagi akan ayahnya. Sebaliknya, hubungan Regina dengan ibu Natalie semakin erat lagi dan mesra. Natalie sungguh-sungguh mencintai anak pungutnya, seperti mencintai anak tunggalnya sendiri.
Pada suatu hari ada seorang lagi yang datang ke perusahaan ternak itu. Kini seorang imam Katolik yang sedang mengembara dari desa ke desa akan memperkenalkan penghuni desa itu dengan Kristus. Ibu Natalie menyambut kedatangan imam itu dengan penuh hormat. Disajikannya makanan yang lezat-lezat dan diperilahkannya bermalam dalam sebuah bangsal di pekarangannya yang luas itu.
“Jika sekiranya saya juga diperbolehkan mengajar pegawai perusahaan ini, maka kuterima ajakan ibu,” sahut imam.
“Tentu saja, Bapa,” seru Natalie.
“Akan saya bantu juga agar banyak orang desa turut hadir mendengarkan ajaran Bapa.”
Berkat bantuan ibu Natalie yang giat itu, pada akhir tahun, hampir seisi desa menyiapkan dirinya untuk menerima Sakramen Permandian Suci.Tapi bagaimana dengan Regina? Ibu Natalie menimbang baik buruknya. Ayahnya pasti tak akan setuju. Tetapi apa boleh buat, Regina dalam pimpinannya. Bukankah jiwa lebih berharga daripada badan? Apa gunanya kesehatan badan bila jiwa terlantar?
Ibu Natalie mengambil keputusan tegas, Regina akan dipermandikan juga bersama dia. Begitulah Regina kecil terlepas dari kedunguan anggapan sesat.... Dan sekarang sesuatu yang tak disangka-sangka muncul dengan tiba-tiba dan mengubah ketenteraman itu.
Sang surya yang baru saja mulai menaiki gelanggangnya, menjanjikan hari terang. Seisi desa yang baru saja pulang dari Misa Kudus mulai bekerja di ladang dan di rumah. Dalam pekarangan ibu Natalie pun mulai ramai oleh suara ternak. Ayam berkeok-keokan, berebut-rebutan mencocok makanan yang berserakan di tanah.
Di antaranya berdiri seorang gadis kecil berumur 8 tahun. Agaknya geli melihat ayam-ayam yang rakus itu. Sebentar-sebentar, senyum manis bermain di bibirnya. Dari sela-sela daun-daun memancar sinar matahari pagi yang menyegarkan ke atas tubuh Regina yang ramping. Rambutnya yang ikal terurai di atas punggungnya.
“Ibu, si Hitam besar ini amat rakus, bu!” seru Regina.
“Ya, memang, perhatikan saja supaya yang lain pun dapat makan,” sahut Natalie.
Ketika itu terdengar bunyi pintu gerbang yang dibuka orang. Natalie menoleh dan tampaklah olehnya sebuah kereta terhenti di muka pintu. Seorang tuan telah memasuki pekarangannya.
“Hai, tuan Hakim, selamat datang!” seru ibu Natalie seraya mendapatkan tamunya.
“Salam dan hormatku, bu,” sahut tuan tadi.
Tapi matanya melayang ke arah gadis di bawah pohon itu. “Alangkah manisnya anak itu, seperti gambar! Itukah anakku?”
“Ya, itu Regina,” ujar Natalie dengan bangga.
Beberapa saat kemudian, Regina telah duduk di atas pangkuan ayahnya. Sedang ibu Natalie sibuk menyediakan hidangan yang layak bagi tamu agung itu.
“Saya membawa kabar baru, bu,” demikian hakim membuka percakapannya.
“O ya, apakah gerangan kabar itu?”
“Kota Alise akan berpesta, dengan mengadakan perarakan yang luar biasa ramainya. Semua puteri dari warga terkemuka akan ikut serta. Maka saya ingin supaya Regina pun tidak ketinggalan. Lagipula anak itu sudah besar dan cukup sehat. Tibalah waktunya dia harus belajar. Maka silahkan ibu menyediakan apa yang perlu, supaya Regina dapat ikut nanti.”
Ibu Natalie memucat.
“Ah Regina dijemput,” keluhnya.
Senja itu, ketika sang surya terbenam di balik bukit-bukit yang kini menyuram berwarna lembayung, ibu Natalie pun bermuram durja karena kehilangan mustika hatinya. Suasana sekeliling rumah ibu Natalie kelihatan sepi. Seakan-akan alam pun turut berdukacita dengan kepergian Regina ke kota.
Kota Alise sedang hanyut dalam kenikmatan pesta. Jalan-jalan raya yang serupa lautan bendera penuh sesak dengan orang. Mereka menantikan perarakan istimewa itu. Di muka sekali, tampak Regina berseri-seri. Tidak heran ayahnya berbesar hati menyaksikan Regina yang mendapat hadiah pertama.
Namun beberapa hari kemudian, ada upacara lain yang menggaduhkan penghuni kota itu, yaitu persembahan kepada dewa dewi yang dianggap pelindungnya. Regina pun diajak ayahnya akan menyembah berhala dewa itu.
Tetapi Regina menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak boleh ayah, meski bagaimana pun juga, aku tidak mau. Aku hanya menyembah Kristus.”
Mendengar kata-kata anaknya, hakim itu tak dapat menahan amarahnya.
Dengan suaranya yang parau, dihardiknya anak itu, “Sungguh engkau telah gila agaknya!”
Ketika itu hilang lenyap kasih sayangnya pada anaknya dan keluarlah dari mulutnya ucapan-ucapan yang pedas dan menyakitkan. Tiba-tiba diusirnya anak itu. Regina tidak berpikir panjang. Secepat kilat ia melangkahkan kakinya menuju rumah ibu Natalie.
Pucat keletihan Regina merobohkan dirinya ke dalam pelukan ibu Natalie. Kemudian sepatah demi sepatah disela oleh sedunya, diceriterakannya nasibnya yang malang itu. Mula-mula ibu Natalie terkejut, lalu iba, kemudian bergembira karena keberanian anak pungutnya.
“Kau terlepas dari bahaya yang mengancam ketenteraman sukmamu nak,” jawabnya sambil mengusap-usap kepala Regina.
“Namun kita harus mencari akal, karena tak dapat dihindarkan, ayahmu akan menuntutmu kembali. Baik jika kau diam di rumah paman saja.”
Maka, keesokan harinya setelah Regina beristirahat, berangkatlah mereka ke rumah kakak ibu Natalie, yang letaknya lebih jauh di pegunungan. Di sana Regina menggembalakan domba-domba petani yang baik hati itu. Pekerjaan itu sangat disukainya. Regina kerap kali menuju ke tempat yang tersembunyi agar dapat berdoa sepuas-puasnya. Dengan demikian, Regina hidup semurni malaikat hingga tiba waktunya diuji oleh Tuhan.
Sekali peristiwa, waktu Regina berumur 15 tahun, datanglah seorang saudagar di daerah itu. Petang itu Regina baru pulang bersama dengan domba-dombanya. Di tengah jalan Regina bertemu dengan saudagar tersebut. Terharu hati saudagar itu melihat anak petani cantik itu.
Lalu dia bertanya, “Siapakah gadis itu?”
“Anak pungut petani yang tinggal di pangkal jalan ini, tuan, tapi asalnya dari kota Alise.”
“Dari kota Alise?” seru saudagar keheranan.
“Ya, karena diusir oleh ayahnya,” begitu kata orang.
“O, ooo!” jawab saudagar.
Rupanya ia mengerti.
Kembali di kota Alise, saudagar itu singgah ke rumah walikota dan menceritakan siapa yang dijumpainya.
“Sungguh cantik gadis itu, lagipula tingkah lakunya sopan.”
Tuan walikota seperti tidak mengindahkan hal itu, tapi sebenarnya amat berharga baginya. Telah lama ia menginginkan kekayaan hakim itu. Jika sekiranya Regina mau menjadi istrinya.....
Keesokan harinya telah diutusnya seorang pesuruh lengkap berkereta akan menjemput Regina. Karena pada sangkanya hal itu adalah kehendak ayahnya, maka tak patut ditolaknya. Regina ikut juga. Betapa kecut hatinya melihat tuan walikota yang loba itu.
“Jika kau sudai menjadi istriku, niscaya ayahmu tak akan marah lagi kepadamu!” kata walikota itu kepadanya.
Regina tersenyum, tangannya berlaku seperti menolak.
“Saya telah terikat pada Yesus Kristus yang tak layak kutinggalkan.”
Tuan walikota tidak putus asa. Dicobanya menarik perhatian Regina dengan perkataan yang lemah lembut. Tapi sia-sia belaka. Kemudian, karena melihat bujukannya tak berhasil, timbul amarahnya. Regina diantarkannya kepada ayahnya yang masih menaruh dendam.
“Adili Regina bila tak mau tunduk,” titahnya.
Mata hakim bersinar-sinar melihat anaknya, dan dari mulutnya keluar kata-kata pedih yang menyakiti telinga Regina. Memang hakim itu lupa akan dirinya. Maka dipaksanya Regina menyembah berhala kepada dewa.
Namun gadis itu tetap menolak, meski secara lemah lembut. Regina insyaf, bahwa ayahnya bertindak demikian karena putus asa, malu dan tidak mengerti akan dirinya. Hakim yang tak beriman, tidak sabar lagi. Regina ditutupnya dalam sebuah sangkar besi yang dirantai ke dinding bilik penjara.
Tiga hari tiga malam, Regina meringkuk dalam sangkar besi itu tidak dapat berdiri tegak atau berbaring dengan merentangkan kakinya. Makanan dan minuman hanya roti kering dan air.
Tapi Tuhan seakan-akan memancarkan Cahaya Ilahi ke dalam penjara yang gelap itu, sehingga sebentar saja rasanya waktu yang lama itu. Ketika Regina diperbolehkan keluar akan menghadap sekali lagi, rupa Regina bertambah cantik, keindahan jiwanya yang murni itu memancar ke luar.
Sejurus ayahnya terharu. Regina dibujuknya agar mau tunduk. Ya, diberinya harapan bahwa dia akan bebas, akan diperbolehkan memenuhi hukum-hukum agamanya, asal saja dia mau bersuamikan walikota tersebut.
Mata Regina memandang kepada ayahnya, membayangkan kasih sayang. Bibirnya bergerak-gerak seperti masih enggan mengucapkan isi hatinya.
Lalu perlahan-lahan digelengkannya kepalanya sambil berkata, “Ampun ayah, sungguh saya tak sanggup. Lebih baik saya mati daripada bersuamikan seseorang yang tidak percaya akan Kristus.”
Ayahnya sangat berang karena merasa dihina dan memutuskan hukumannya.
“Pukullah gadis itu! Kemudian bawa kembali ke penjara! Di sana dia boleh mati kelaparan.”
Seketika sunyi senyap, Regina tetap tenang.
Kemudian rakyat yang mulai kasihan kepada Regina mulai berteriak, “Tunduklah nak! Ingat, kau masih muda, se.....!”
Regina menoleh ke arah rakyat itu. Dan mereka langsung diam.
Regina tersenyum sambil menjawab, “Sayang, kalian tidak mengerti maksud perbuatanku ini.”
Terhuyung-huyung kesakitan, Regina diseret-seret kembali ke penjara. Tatkala pintu tertutup, dicobanya berlutut dan berdoa.
“Oh Tuhan,” bisik Regina.
“Biarlah hamba meninggalkan dunia yang fana ini! Biarlah hamba.....”
Mata Regina terbeliak, tiba-tiba tempat yang gelap itu terliputi cahay terang cuaca. Tampak olehnya sebuah salib dan di atas salib itu hinggap seekor burung dara putih bersih serta gilang gemilang.
Suara nyaring lagi merdu terdengar, “Salam Regina! Telah tersedia bagimua pahala kekal dalam surga abadi. Kau akan bersatu dengan penghuninya dalam damai yang tak terbatas.”
Kegirangan yang luar biasa, meresap dalam kalbu Regina. Dan tiba-tiba juga, luka-luka di tubuhnya sembuh sama sekali.
Keesokan harinya, sekali lagi, Regina dipanggil menghadap hakim. Betapa herannya mereka sekalian melihat gadis itu sembuh, berkulit bersih dan cantik luar biasa.
“Ah, Regina, sungguh engkau anak kesayangan para dewa-dewa kita yang telah menyembuhkan badanmu pula. Maka patutlah bila kau bersyukur kepadanya dan menyebarkan kemenyan beberapa butir ke dalam perapiannya.”
Regina memalingkan mukanya seraya menjawab, “Bukan mereka yang tiada berwujud menyembuhkan, tetapi Tuhan. Maka relalah saya mengurbankan nyawaku untuk Dia!”
Akibatnya sekali lagi Regina didera dihadapan umum. Sambil berdoa disambutnya pukulan itu dengan sabar, seolah-olah tidak dirasakannya.
Rakyat mulai gelisah, mulai memihak. Sebab itu pembesar mengambil keputusan. Regina dipenggal....! Akan tetapi, darahnya menyuburkan benih kepercayaan yang ditebarkannya ke dalam hati para hadirin. Mereka ingin mengetahui ajaran agama Regina.
Semua ini terjadi dalam pemerintahan Kaisa Decius. Tempat di mana Regina mencapai daun nipah, lambang kemenangan kekal yang kini terkenal sebagai “Sainte Reine” (Santa Regina), yaitu sebuah dusun di daerah Autun. Pada tahun 864, jenazah Santa Regina dipindahkan ke gereja pertapaan Flavigny. Namun biara Flavigny lebih terkenal sebagai, “Penjara Santa Regina”. Pesta martir muda ini dirayakan pada tanggal 7 September.
Santa Regina, Pelindungku, doakanlah aku selalu ..
Kamis, 26 Januari 2012
Dance With My Father
![]() |
| With the greatest Daddy on Earth |
Luther Vandross, Richard N Marx
Back when I was a child
Before life removed all the innocence
My father would lift me high
And dance with my mother and me
And then
Spin me around 'till I fell asleep
Then up the stairs he would carry me
And I knew for sure
I was loved
If I could get another chance
Another walk
Another dance with him
I'd play a song that would never ever end
How I'd love love love
To dance with my father again
When I and my mother
Would disagree
To get my way I would run
From her to him
He'd make me laugh just to comfort me
yeah yeah
Then finally make me do
Just what my mama said
Later that night when I was asleep
He left a dollar under my sheet
Never dreamed that he
Would be gone from me
If I could steal one final glance
When final step
One final dance with him
I'd play a song that would never ever end
Cause I'd love love love to
Dance with my father again
Sometimes I'd listen outside her door
And I'd hear how mama would cry for him
I'd pray for her even more than me
I'd pray for her even more than me
I know I'm praying for much to much
But could you send her
The only man she loved
I know you don't do it usually
But Dear Lord
She's dying to dance with my father again
Every night I fall asleep
And this is all I ever dream
Lagu ini mengingatkan aku akan sosok papa yang selalu membawa kenangan di dalam hidupku. Aku bahkan selalu teringat papa setiap mendengarkan lagu ini.
Papa telah meninggal dunia di usianya yang ke-65 ketika aku masih kuliah
pada tahun 2005 silam. Sepanjang
hidupnya, papa tidak pernah dekat dengan keluarga. Papa selalu sibuk dengan pekerjaannnya
dari pagi hingga sore hari. Biasanya pada malam hari Papa sudah lelah dan lebih
suka menghabiskan waktunya sendiri.
Aku tidak memiliki relasi yang akrab dengan Papa, tidak pernah bermanja2 atau cerita2 dengannya, meski begitu aku suka teringat ketika kecil sering bermain tebak gambar dengannya. Papa memiliki talenta menggambar, sehingga kami sering menggunakan sisi belakang kalendar dinding yang besar untuk bermain tebak gambar. Seru sekali jika mengenang hal itu.
Papa juga selalu sabar menemani aku ketika masih kecil yang setiap malam takut kalau harus ke WC sendirian, beliau biasa menunggu aku di depan WC sampai aku selesai.
Aku paling ingat ketika kecil sering sulit tidur, aku pasti membangunkan papa dan bilang : "Pa, aku ga bisa bobo". Papa dengan sabarnya bilang .. pelan2 pasti bisa bobo, terus aku dipeluk dan tertidurlah aku ^^ rasanya nyaman sekali..
Ketika aku menginjak SMU, Papa tiba-tiba terserang stroke ringan, pembuluh darahnya
tersumbat, tidak dapat berjalan dan harus dirawat di rumah sakit hampir sebulan
lamanya. Setelah keluar dari rumah sakit, kondisi Papa tidak pernah menjadi
lebih baik. Tubuhnya menjadi sangat kurus dan sulit untuk berjalan normal
kembali.
Sejak itu sepertinya Papa menganggap dirinya menjadi beban bagi kami
sekeluarga. Papa yang dahulu begitu gagah, selalu berpenampilan rapih dan tidak
pernah sakit kini tampak begitu rapuh sekali. Perubahan juga nampak pada emosinya
yang menjadi labil. Papa jadi mudah marah dan tersinggung.
Selepas dari serangan stroke itu, Papa beberapa kali kembali masuk ke rumah
sakit. Salah satunya karena kadar
gulanya yang tinggi sehingga setiap hari Papa harus disuntik insulin beberapa
kali. Aku satu-satunya yang dipercaya Papa untuk menyuntik. Papa mengatakan
senang jika aku yang menyuntiknya karena tidak terasa sakit. Papa bahkan sering
menunggui aku hingga pulang sekolah untuk disuntik.
Papa seringkali
menceritakan kepada setiap orang bahwa dia bangga terhadapku yang telaten
merawatnya ketika sakit. Suatu ungkapan yang menyatakan penghargaannya terhadap apa yang sudah aku
lakukan.
Papa jarang sekali memuji, namun semenjak Papa sakit, kalimat penghargaan dan kebanggannya kepadaku
seringkali meluncur dari mulutnya.
Ketika aku kuliah, Papa kembali dirawat di rumah sakit untuk ke-4 kalinya.
Saat itu kondisinya sangat buruk karena pernah terjatuh sehingga tulang
pinggulnya patah dan tidak bisa bangun sama sekali dari ranjang. Setelah
berkali-kali dirawat di rumah sakit dan pasca operasi tulang akhirnya dokter
menyarankan agar Papa dibawa pulang saja untuk dirawat di rumah.
Selama dirawat di rumah, aku jadi semakin dekat dengannya. Apalagi saat itu
Mama sibuk menggantikan Papa untuk bekerja sehingga aku jadi sering berada di
rumah Kedekatanku dengan Papa terus bertumbuh di sisa-sisa akhir masa hidupnya.
Papa yang hanya bisa tidur di ranjang sering memanggil namaku. Kadang Papa memanggil hanya untuk minta ditemani atau sekedar minta minum karena haus. Saat itu yang ada di pikiranku adalah ini Papa yang sudah berjuang begitu keras sepanjang hidupnya untuk kami sekeluarga. Kini Papa hanya terbaring dan tidak bisa berbuat banyak. Papa yang tidak pandai mengkomunikasikan perasaanya namun ternyata sebenarnya sangat mengasihi kami keluarganya.
Akhirnya kondisi Papa semakin buruk, aku ingat saat itu aku sedang berjuang
menghadapi ujian tengah semester yang kebetulan tidak mudah. Sepanjang malam Papa
terus merintih kesakitan. Aku berusaha untuk tetap fokus belajar dan tidak
begitu menghiraukan Papa. Sangat
disayangkan ternyata sebenarnya itu adalah malam terakhir yang bisa aku
lewatkan bersamanya, karena di pagi
harinya Papa meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Di saat-saat akhir sisa hidup Papa, mesipun hubungan kami menjadi dekat
namun aku tidak pernah sekalipun mengatakan aku mengasihinya. Seandainya Papa
dapat mendengarkan ku saat ini aku ingin mengatakan : “Novi juga sangat sayang Papa.
Saat kebersamaan kita di sisa akhir hidup Papa adalah saat terindah dalam
hidupku yang tidak dapat tergantikan dengan apapun juga.”
Beautiful in White
Shane Filan
Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous
I couldn't speak
In that very moment I found the one and
My life had found it's missing piece
But when we first met
I got so nervous
I couldn't speak
In that very moment I found the one and
My life had found it's missing piece
So as long as I live I love you
Will heaven hold you
You look so beautiful in white
And from now to my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
What we have is timeless
My love is endless
And with this scream I say to the world
You're my every reason
You're all that I believe in
with all my heart I mean every word
So as long as I live I love you
will heaven hold you
You look so beautiful in white
And from now to my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
Oooooh oh
Na na na na na
So beautiful in white
Tonight
And if our daughter's what our future holds
I hope she has you're eyes
finds love like you and I did
Yeah, I wish she falls in love
and I will let her go
I'll walk her down the aisle
She'll look so beautiful in white.....
You look so beautiful
In white
So as long as I live I love you
will heaven hold you
You look so beautiful in white
And from now to my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
will heaven hold you
You look so beautiful in white
And from now to my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
"You look so beautiful in white tonight"
Selasa, 24 Januari 2012
Hidup Dengan Orang Yang Sulit
Tidak semua orang beruntung mengalami kehidupan yang tenang. Ada banyak kali, di dalam keluarga kita sendiri, kita harus berhadapan dengan orang-orang yang sulit. Orang sulit tidak melulu dengan mereka yang luka batin-walaupun harus diakui luka batin memegang peranan yang cukup besar dalam katagori orang sulit ini, banyak juga kasus seperti sakit-penyakit, karakter yang keras, harus dihadapi oleh banyak dari kita.
Tak jarang, kita dibuat bingung. Suatu hal yang biasa, mengapa harus dihadapi dengan reaksi yang sedemikian kerasnya bagi orang-orang tertentu. Tidak ada orang yang seragam, semua orang adalah unik, cara berpikir dan bereaksi pun berbeda tergantung pada banyak hal: pendidikan, cara dia dibesarkan di keluarga, dan banyak hal lainnya. Tentu saja, hidup dengan mereka yang perfeksionis, cerewet, mau menang sendiri, tak pernah mau tahu perasaan orang lain, maunya dimengerti tapi tak pernah mau mengerti, keras-mengganggap diri selalu benar dan orang lain salah, bukanlah hal yang mudah. Tetapi, mau tidak mau, tetap saja terjadi di sekitar kita, bukan? Rasanya jarang kedua pihak orangtua sifatnya sama: kalem. Kalau satu kalem, satunya lagi kemungkinan lebih cerewet. Satu keras, satu lagi lembut. Biasanya variasi yang begini yang membuat perkawinan bertahan lama.
Menjadi bagian dari keluarga berarti mau menerima baik dan buruknya seseorang. Interaksi yang begitu banyak antar anggota keluarga, mau tidak mau menjadikan kita mungkin akan lebih banyak adu argumentasi sekaligus banyak terluka oleh omongan salah satu di antara kita. Inginnya semua lancar dan indah. Tetapi tak jarang, banyak kejadian nyata membuktikan: orangtua dan anak bertengkar, suami-istri saling mendiamkan, antar saudara rebutan harta, dan sebagainya. Tidak mudah memang menjembatani seluruh permasalahan yang ada dan melihatnya dengan lapang dada. Terkadang, luka lama yang belum sembuh kembali dihantam oleh luka-luka baru yang menambah kepedihan yang mendalam. Untuk itulah, diperlukan kemampuan untuk mengampuni satu-sama lain secara terus-menerus. Kalau perlu setiap hari, kita mendoakan agar kita mampu memaafkan orang-orang yang menyakiti kita, terutama keluarga terdekat kita. Karena mereka paling banyak menyakiti kita sekaligus kita pun bisa jadi orang yang paling banyak menyakiti mereka. Pengampunan tidak bisa terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Karena pengampunan yang dimiliki manusia amatlah terbatas. Dengan menyertakan Kasih Tuhan, semoga kita diberi kekuatan baru untuk melangkah di dalam cinta. Dalam seluruh kesakitan, kesesakan, dendam, kebencian, kita mencari-Nya. Menyerahkan semua rasa itu, lalu percaya, Tuhan akan memberikan tetesan kasih dan pengampunan- Nya yang baru. Yang akan memampukan kita mengasihi kembali keluarga yang begitu kita sayangi, yang mungkin juga sekaligus begitu menyakitkan hati.
Di akhir tulisan ini, ingin saya tuangkan pemikiran bagaimana sebaiknya jika kita harus hidup dengan orang yang sulit dalam keluarga?
Untuk hidup dengan orang yang sulit, hendaknya kita melibatkan Tuhan dan menempatkan Dia di atas segala permasalahan yang ada. Hendaknya kita hidup dalam kasih Tuhan. Terus mendoakan diri mereka, juga berdoa mohon kekuatan dan kesabaran untuk menanggung semuanya. Bukan kebetulan jika mereka ditempatkan di sekeliling kita, menjadi keluarga kita. Tuhan pastinya ingin mengajarkan sesuatu di balik itu semua. Setidaknya mengajarkan kesabaran menghadapi Mama yang cerewet, Papa yang mau menang sendiri, Istri yang maunya hanya dimengerti tapi tak pernah mau mengerti, anak yang manja dan kurang mau dengar nasihat orang tua…. Mereka tetaplah keluarga yang sudah diperkenankan Tuhan masuk ke dalam kehidupan kita.
Untuk hidup dengan orang sulit, hendaknya kita berdamai dengan diri sendiri juga. Terkadang, sudah memilih pasangan hidup yang dikira baik, tak tahunya ternyata orang yang sulit. Sesal kemudian membawa tindakan menyalah-nyalahkan diri sendiri.Keadaan tidak damai dalam diri, rasanya sulit juga untuk berdamai dengan sekitar. Perdamaian dan pengampunan dengan diri sendiri juga hendaknya dilakukan senantiasa. Membawa semua rasa bersalah, menuding-nuding diri sendiri, untuk kemudian belajar mengampuni diri. Seringkali rahmat Tuhan sulit turun, karena kita sendiri yang menghalangi. Karena kita masih merasa bersalah dan tidak mau menerima diri. Dia Maha Pengasih dan Penyayang, asal kita mau memperbaiki diri dan bertobat, selalu ada jalan untuk kembali.
Untuk hidup dengan orang sulit, hendaknya kita mau belajar mengerti, bukan melulu maunya dimengerti. Setiap orang maunya dimengerti, jarang mau mengerti. Semoga kita menjadi pribadi yang semakin hari semakin mau memahami, bukan melulu dipahami.
Untuk hidup dengan orang yang sulit, hendaknya kita mau memberikan telinga yang mau mendengarkan. Banyak kali, kedua belah pihak hanya berbicara terus, tanpa pernah mau mendengarkan keinginan pihak lainnya. Semoga dengan demikian, semakin banyak konflik yang terselesaikan. Dan perdamaian, bukan hanya istilah manis, tetapi sungguh dapat dirasakan.
Untuk hidup dengan orang sulit, kita harus meluangkan banyak waktu untuk bersabar dan mengendalikan diri. Tidak terbawa emosi. Apalagi mereka yang tengah sakit dan mengalami permasalahan kejiwaan akibat stres. Ini mungkin saat-saat tersulit dalam kehidupan orang yang kita kasihi. Ada baiknya berusaha menempatkan diri pada posisi mereka dan melihat dalam cinta Tuhan.
Untuk hidup dengan orang sulit, kita perlu meningkatkan kemampuan kita dalam berkomunikasi dan berelasi. Rasanya mudah menghabiskan berjam-jam dengan teman akrab kita, tetapi dengan keluarga yang menyebalkan rasanya ingin lari dan menjauh saja. Semoga kita disadarkan bahwa waktu kita adalah singkat. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi bahkan dalam satu detik ke depan. Tinggallah dalam perdamaian, sehingga tiada sesal saat anggota keluarga kita harus menghadap Yang Kuasa.
Semoga kita sendiri menjadi orang yang lebih baik dalam hal kesabaran, pengampunan dan kasih. Semoga kita bukan menjadi orang yang sulit bagi sekitar kita. Sulit dalam arti penuh dendam, kebencian, dan menyusahkan keluarga saja. Berpegang dan bersandar kepada Tuhan dalam doa. Mohon kekuatan, sambil terus membenahi diri. Kalau bukan dari diri dan keluarga, harus dari siapa? Bagaimana mau bicara soal perdamaian dunia, kalau perdamaian dalam diri dan keluarga saja sulit tercipta?
Tentunya, semua berawal dari sebuah keputusan untuk menerima anggota keluarga yang sulit itu juga. Dan secara berproses-bukan instan- perlahan tetapi pasti menjadi pribadi yang mau melihat, mengerti, dan memahami secara lebih objektif. Bukan karena rasa tidak suka, lalu memutuskan untuk tidak lagi peduli. Mereka adalah bagian hidup kita juga.
Akhirnya, tiada yang mustahil di dalam Tuhan. Tetapi, apakah kita juga mau bekerja sama dengan-Nya? Atau kita menempatkan keangkuhan terlalu tinggi untuk menegur, dendam terlanjur melilit kuat-kuat dan mencegah kita untuk menyapa? Pilihannya ada di tangan kita.
Di awal tahun ini, adalah baik juga bila kita memulainya dengan sebuah resolusi: meningkatkan hubungan yang lebih baik dengan keluarga kita. Bukan dengan sahabat di jejaring sosial, bukan dengan sobat semasa sekolah yang kembali akrab karena chatting dan reunian, tetapi dengan keluarga kita sendiri. Mari, sama-sama kita belajar untuk berdamai dan lebih mengasihi keluarga kita sendiri.
Source : Milis PP(Powered Personality)
Source : Milis PP(Powered Personality)
Selasa, 16 November 2010
Karunia dan Buah Roh Kudus
Re-post : November 5, 2010
I feel so blessed – ketika aku mendapatkan pemahaman Firman Tuhan mengenai buah-buah roh dan karunia roh kudus..
Melalui Persekutuan Doa, aku mendapatkan pemahaman bahwa Tuhan mengaruniakan pernyataan roh (baca : Karunia Roh) kepada setiap orang secara cuma2..
Dengan kata lain kita diberikan karunia roh ini sebagai gift tanpa syarat dari Tuhan.
Karunia roh ada 9 :
berkata-kata dengan hikmat
berkata-kata dengan pengetahuan
iman
menyembuhkan
mengadakan mujizat
bernubuat
membedakan bermacam-macam roh
berkata-kata dengan bahasa roh
menafsirkan bahasa roh.
Karunia terbagi menjadi 3 : karunia dari pikiran, karunia dari lidah/mulut/perkataan, karunia dari kuasa tangan..
Setiap manusia memperoleh karunia ini untuk kepentingan dan kebaikan bersama.
Mungkin ada beberapa dari kita yang merasa bahwa kita tidak memiliki salah satu atau mungkin lebih karunia-karunia tersebut.
Itu karena kita kurang peka akan kehadiran pernyataan Roh Tuhan di dalam diri kita.
Namun karunia yang dimiliki tiap-tiap orang ini harus disertai dengan buah-buah roh yang juga ada 9 :
Kasih
Sukacita
damai sejahtera
kesabaran
kemurahan
kebaikan
kesetiaan
kelemah lembutan
penguasaan diri
Berbeda dengan karunia roh yang kita terima secara Cuma-Cuma sebagai gift dari Tuhan, buah-buah roh adalah sesuatu yang harus terus menerus kita usahakan dan pelajari seumur hidup kita.
Mengapa karunia roh ini harus disertai buah-buah roh?
Karena tanpa buah-buah roh yang menopang, karunia roh tidak akan menjadi berkat melainkan sebaliknya..
Seseorang yang memiliki karunia untuk menyembuhkan atau bernubuat namun jika ia tidak ditopang dengan penguasaan diri dan kasih bukan akan menjadi berkat bagi orang di sekitarnya melainkan batu sandungan.
Karena itu marilah kita mensyukuri semua karunia yang telah Tuhan berikan kepada kita dan mengusahakan diri berbuah di dalam hidup ini sehingga hidup kita menjadi berkat bagi sesama dan menebarkan sinar kasih Tuhan di mana pun kita berada.
Amin
1 Korintus 12:7-11
Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.
Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.
Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.
Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.
Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.
Galatia 5 :22-23
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
Langganan:
Postingan (Atom)



